
Sabtu, 13 Maret 2010
MUSEUM

Rabu, 10 Maret 2010
Belajar di Museum
Oleh : Iwan Hermawan
Menurut Hilgard, “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)”. Sedangkan menurut Gagne, “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance) berubah dari waktu sebelum mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tersebut” (Purwanto, 1990:84).
Menurut pandangan Modern, Belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Seseorang dinyatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya (Hamalik, 1985:40-41). Dalam belajar menurut Thomas dalam Hamalik (1985:45) terdapat 3 tingkatan pengalaman belajar, yaitu :
1. Pengalaman melalui benda sebenarnya
2. Pengalaman melalui benda-benda pengganti
3. Pengalaman melalui bahasa.
Dari uraian tersebut menunjukkan, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung dalam ruangan kelas di sekolah tetapi dapat juga berlangsung di lingkungan Masyarakat, sehingga Museum sebagai bagian dari Masyarakat merupakan salah satu tempat yang dapat dipilih oleh guru untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas, karena koleksi pameran dan diorama Museum dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan di dalam kelas.
Bagi pembelajaran IPS, Museum merupakan tempat yang tepat untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas, karena menurut Boyer (1996), “Museum as educational institution teach us about the objects of lasting human interest and value” selain itu, Sunal dan Haas (1993: 294) mengungkapkan, “A trip a museum or restoration is often reported as a positive memory of the study of History”.
Dalam kegiatan pembelajaran, siswa diajak atau ditugaskan oleh guru berkunjung ke museum dengan tujuan untuk mengamati objek yang dipamerkannya. Selama mereka berada di museum dan mengamati objek pameran diharapkan pikiran mereka bekerja dan objek pameran yang diamatinya dapat menjadi alat bantu belajar. Jika dilaksanakan dengan baik, kegiatan kunjungan ke Museum dapat menjadi batu loncatan bagi munculnya ide dan gagasan baru dalam pembelajaran, karena saat berkunjung di museum siswa dirancang untuk menggunakan kemampuan berfikir kritis yang menurut Takai dan Connor (1998), meliputi :
- Comparing and Contrasting (kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan pada objek yang diamati)
- Identifying and Classifying (kemampuan mengidentifikasi dan mengelompokkan objek yang diamati pada kelompok seharusnya).
- Describing (kemampuan menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenaan dengan objek yang diamati).
- Predicting (kemampuan untuk memprakirakan apa yang terjadi berkenaan dengan objek yang diamati).
- Summarizing (kemampuan membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di Museum dalam sebuah laporan secara singkat dan padat).