Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2011

BRAGA SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN BANDUNG TEMPO DULU

Iwan Hermawan

(Diterbitkan dalam buku "Perdagangan dan Pertukaran : Masa Prasejarah - Kolonial" Penerbit : Alqaprint - Jatinangor, 2010).


(Persimpangan Jalan Braga - Naripan, 2010)

Abstract

De groote postweg and the railway has made Bandung in strategic positions in the Netherland East Indies. The growth of Population and Economic were moving up from time to time, including the number of population of European descent.


The increasing number of people of European descent had encourage governments of
Gemeente Bandung to make the Braga road as a special shopping area for the residents of European descent in other to they were not mix with the indigenous population. For this reason, the construction of shops on the Braga street arranged to resemble a shopping area in the Netherlands. Braga's face changed from street carts had being a face of Bandung.

Kata Kunci :

Bragaweg, Karrenweg, Pusat Komersial, Bandung.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan perekonomian Bandung telah dimulai sejak awal abad ke-18, jauh sebelum Gubernur Jenderal H. W. Daendels (1808-1811) memimpin Pemerintahan Kolonial di Hindia Belanda dan membangun Jalan Raya Pos yang membentang sepanjang Pesisir Utara Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan. Dimulai pada tahun 1712, Abraham van Riebeek mendarat di Pelabuhanratu (Wijnkoopsbaai) dengan membawa benih tanaman Kopi untuk dibudidayakan. Selain itu, pada tahun 1713 van Riebeek juga mendaki Gunung Papandayan dan Gunung Tangkubanparahu guna mencari belerang (Sulphur) yang merupakan bahan baku bubuk mesiu, usaha yang ditekuninya disamping perkebunan kopi. Baru pada tahun 1742 tiga orang bangsa kulit putih secara resmi datang dan menetap di Bandung setelah sebelumnya pada tahun 1741 Belanda secara resmi menugaskan Kopral Arie Top sebagai pengurus keamanan di Tatar Ukur. Ketiga orang tersebut, adalah kakak beradik Ronde dan Jan Geysbergen serta seorang tentara buangan dari Batavia. Dalam waktu singkat mereka menjadi orang sukses di tanah pembuangan, karena mereka berhasil membuka hutan dan berkebun serta mengelola penggergajian kayu (Kunto, 1984:9-11). Keberhasilan tersebut telah mendorong orang-orang untuk datang dan melakukan usaha di Bandung.

Pembangunan Jalan Raya Pos pada awalnya ditujukan untuk kepentingan militer, pada perkembangan berikutnya semakin memperkuat posisi perekonomian kota-kota yang dilaluinya, termasuk Bandung. Dampak positif dirasakan Bandung dari keberadaan jalan Raya Pos tersebut. Secara geografis, posisi Bandung semakin strategis di mata pemerintah kolonial Belanda pasca diresmikannya Jalan Raya Pos. Posisi tersebut semakin kuat menyusul dibukanya jalur kereta api Batavia–Bandung melalui Bogor–Sukabumi-Cianjur dan jalur kereta api Batavia–Bandung melalui Purwakarta yang dibuka kemudian.

Pembukaan jalur transportasi Bandung–Batavia semakin memudahkan hubungan kedua kota dan kondisi ini mendorong semakin cepatnya pergerakan roda perekonomian di Bandung. Sampai pertengahan abad ke-18, perjalanan dari Batavia ke pedalaman Priangan dilakukan dengan menggunakan rakit atau perahu melewati Sungai Citarum atau Cimanuk. Menurut catatan perjalanan yang ditemukan E.C.G. Molsbergen (1935), baru pada tahun 1786 jalan setapak yang dapat dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia–Bogor–Cianjur–Bandung. Jalur tersebut memiliki arti penting bagi kepentingan perekonomian kompeni Belanda, sebab pada tahun 1789 Pieter Engelhard telah membuka perkebunan kopi di lereng selatan Gunung Tangkubanparahu. Hasil tanaman kopi tersebut memberi panen yang sangat memuaskan pada tahun 1807 (Kunto, 1984:11).

Pesatnya pembangunan Bandung telah mendorong perubahan dalam pengelolaan wilayah. Pada tahun 1864 selain sebagai kabupaten, Bandung secara resmi menjadi Ibukota Karesidenan Priangan menggantikan Cianjur. Peningkatan status pemerintahan Bandung kembali terjadi yaitu menjadi Kotapraja (Gemeente) pada tanggal 1 April 1906 dan terus meningkat hingga menjadi Stadsgemeente pada tanggal 1 Oktober 1926. Dengan status baru tersebut, Bandung diberi wewenang mengelola dan mengurus pemerintahannya sendiri (Kunto, 1986:122; Hardjasaputra, 2000:128).

Keberadaan Jalan Braga tidak terlepas dari keberhasilan pengembangan tanaman kopi di Dataran Tinggi Bandung pada masa tanam paksa (1830-1870). Ruas jalan yang panjangnya sekitar 700 meter ini merupakan akses penghubung antara Jalan Raya Pos dengan Gudang Kopi milik Andries de Wilde yang kemudian ditingkatkan fungsinya menjadi tempat pelelangan kopi (coffe per house). Setiap transaksi yang berlangsung di rumah pelelangan, barangnya akan langsung dikirim melalui Kantor Pos yang letaknya di tepi jalan raya Pos, tidak jauh dari Tempat Pelelanagn Kopi. Karena ruas jalan ini hanya dapat dilalui oleh pedati, maka jalan ini terkenal dengan nama Jalan Pedati atau Karrenweg (Sunarwiboro, 2010).

Semenjak akhir abad ke-19, Kawasan Karrenweg berkembang menjadi kawasan komersial paling bergengsi di Bandung. Hal ini tidak terlepas dari aktifitas para pengusaha perkebunan (preangerplanter) yang datang dari berbagai perkebunan di sekitar Bandung. Pada akhir pekan para Preangerplanter datang ke Bandung untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan mencari hiburan (Kunto, 1984; Suganda, 2008; Harastoeti, 2010; Sunarwibowo, 2010). Kondisi ini mendorong tumbuh suburnya pertokoan, sarana hiburan, dan penginapan di sekitar alun-alun, termasuk di ruas Karrenweg. Karena dianggap sudah tidak tepat lagi, lambat laun nama Karrenweg menghilang dan nama Jalan Braga (Bragaweg) pun muncul sebagai penunjuk Karrenweg sesuai dengan nama Tonil Braga yang didirikan oleh Pieter Sijthoff pada tanggal 18 Juni 1882 (Kunto, 1984:295).

Sejak dicabutnya aturan pembatasan terhadap para pendatang yang akan berkunjung ke Bandung pada tahun 1852, suasana Bandung menjadi semakin ramai dan pergerakan roda perekonomian pun semakin cepat berputar. Kondisi ini jelas menjadi salah satu faktor penarik bagi kaum migran untuk datang dan mengadu nasib. Jumlah penduduk berkebangsaan Eropa di Bandung yang terus meningkat serta terus naiknya angka kedatangan wisatawan berkebangsaan Eropa mendorong Pemerintah Kotapraja (gemeente) Bandung dibawah pimpinan Walikota (Burgemeester) B. Coops (1917-1928) untuk membangun kawasan belanja bergengsi di Hindia Belanda atau De meest Europeesche Winkelstraat van Indie. Tujuannya, adalah menyediakan fasilitas belanja representatif khusus bagi warga Bandung keturunan Eropa yang tidak bersatu dengan penduduk pribumi serta sebagai kawasan wisata belanja yang diharapkan mampu menarik wisatawan datang ke Bandung (Kunto, 1984; Kunto, 1986; Suganda, 2008).

Pemerintah Gemeente Bandung memilih ruas Jalan Braga (Bragaweg) sebagai Kawasan Komersial. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemerintah Gemeente Bandung mengeluarkan aturan pembangunan di kawasan Braga yang merupakan bagian dari rencana penataan kawasan Cikapundung atau Tjikapoendoengplan.

Permasalahan

Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimanakah perkembangan kawasan Braga, dari Karrenweg (Jalan Pedati) hingga menjadi ikon perdagangan kota Bandung tempo dulu serta mengapa Kawasan Braga yang dipilih pemerintah Kotapraja Bandung sebagai kawasan belanja bergengsi di Hindia Belanda (De meest Europeesche Winkelstraat van Indie), bukan kawasan lainnya di Bandung.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, pada tulisan ini diuraikan perjalanan Kawasan Braga sebagai ikon perdagangan kota Bandung tempo dulu. Selain itu, diuraikan pula hasil analisis keruangan terhadap kawasan Braga sebagai kawasan strategis untuk mengetahui alasan pemerintah kotapraja Bandung menetapkan kawasan tersebut sebagai kawasan belanja bergengsi di Hindia Belanda (De meest Europeesche Winkelstraat van Indie).

KARRENWEG KE BRAGAWEG

Sampai pada tahun 1920, kota Bandung masih sunyi sepi sehingga belum pantas disebut “Paris Van Java”. Kehidupan di kota ini belum berdenyut 24 jam, hanya ramai di pagi hingga siang hari, sedikit lewat Ashar orang sudah bergegas pulang ke rumah (Kunto, 1996:21). Demikian pula halnya dengan jalan Braga yang menghubungkan Gudang Kopi milik Andries de Wilde (Gedung Papak) dengan Jalan Raya Pos masih sepi, karena rumah dan bangunan belum banyak berdiri. Di kiri kanan jalan, pohon-pohon besar tegak berdiri. Kondisi jalannya masih berupa jalan tanah yang berlumpur di musim penghujan dan berdebu di musim kemarau. Kendaraan yang selalu melewati jalan ini secara rutin adalah pedati atau gerobak penarik hasil perkebunan yang ditarik oleh kerbau. Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa jalan ini dinamakan Karrenweg atau Jalan Pedati. Pada malam hari, suasananya menyeramkan dan tidak ada seorang pun yang berani melewatinya karena takut menjadi korban perampokan atau pembegalan. Karena dianggap menyeramkan tersebut, Karrenweg juga dikenal dengan sebutan Jalan Culik. Namun, seiring dengan perkembangan kota dan meningkatnya peran serta fungsi Karrenweg dalam perekonomian masyarakat Bandung, sebutan Jalan Culik pun lambat laun ikut menghilang (Kunto, 1984; Suganda, 2008).

Sejak dibangunnya Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels, ujung selatan Karrenweg merupakan titik pertemuannya dengan Jalan Raya Pos. Hal ini menjadikan fungsi dan peran Karrenweg semakin meningkat, karena menjadi penghubung Jalan Raya Pos dengan Gedung Papak. Kondisi ini mendorong perekonomian di kawasan tersebut mulai berdenyut, toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan warga Bandung mulai didirikan dan terus meningkat ketika Residen Priangan, yaitu Residen Van der Moore memindahkan pusat pemerintahan Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864 bersamaan dengan meletusnya gunung Gede.

Nama Karrenweg lama kelamaan dianggap tidak cocok sehingga diganti menjadi Bragaweg. Nama ini menurut catatan Haryoto Kunto (1984, 1986) diambil dari nama perkumpulan Tonil Braga (Toneelvereeniging Braga) yang didirikan oleh Asisten Residen Pieter Sijthoff pada tanggal 18 Juni 1882. Tonil Braga bermarkas dan melakukan pementasan rutinnya di Societet Concordia (sekarang Gedung Merdeka) dan sejak itu Karrenweg lebih dikenal dengan sebutan Bragaweg. Namun Her Suganda (2008) mencatat bahwa nama Bragaweg berasal dari kata Bragaderm yang artinya tempat melakukan pawai atau iring-iringan. Hal ini dikarenakan Bragaweg merupakan tempat orang Belanda dan Eropa lainnya berkumpul menikmati hiburan sambil memamerkan kekayaan dan kekuasaannya. Bagi orang Sunda, nama Braga berasal dari kata Ngabaraga artinya berjalan-jalan atau pelesir karena sepanjang jalan Braga merupakan tempatnya orang-orang Belanda dan Eropa lainnya berjalan-jalan sambil berbelanja barang-barang mewah yang dipajang di etalase toko berderet sepanjang jalan dari selatan ke utara.

Sebagai tempat belanja dan pelesir, kawasan Braga sudah dikenal sejak akhir abad ke 19. Para preangerplanter datang ke Bandung untuk berbelanja segala kebutuhan sehari-hari yang tidak ada di pedalaman sekaligus bersantai dan mencari hiburan menghabiskan akhir pekan.

Salah satu toko yang paling terkenal di kalangan preangerplanter, adalah toko de Vries. Toko ini didirikan oleh tuan M. Klass de Vries pada akhir abad ke 19 di tepi Jalan Raya Pos sebelah utara Alun-alun, kemudian pindah ke sebelah barat Hotel Homann tepat di mulut jalan Braga sebelah selatan. Hingga dekade pertama abad ke 20, Toko De Vries adalah yang terbesar dan terlengkap di antara toko-toko yang ada. Bangunan toko mengalami perubahan pada tahun 1909 yang dilakukan secara bertahap oleh Arsitek Edward Cuypers. Sejak didirikan Toko De Vries menjual aneka macam kebutuhan sehari-hari yang menjadi kebutuhan warga Bandung. Pelanggan utama toko ini adalah para pengusaha perkebunan di sekitar Bandung (Preangerplanter) yang selalu berbelanja di setiap akhir pekan. Selain itu, sampai tahun 1902, toko ini adalah satu-satunya toko yang menjual obat-obatan dengan pelanggan utama dokter Schattenker, satu-satunya dokter yang praktek di Bandung pada masa itu (Hutagalung dan Nugraha, 2008; Kunto, 1986).

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk keturunan Belanda dan Eropa lainnya di kota Bandung mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk menyediakan fasilitas belanja dan hiburan yang dikhususkan bagi mereka dan tidak bercampur dengan kaum pribumi. Fasilitas tersebut disediakan agar para keturunan Belanda dan Eropa tersebut betah tinggal di Bandung karena seolah berada di negerinya sendiri. Sekat antara pribumi dengan warga keturunan Belanda dan Eropa sebenarnya sudah tampak dalam pembangunan kota Bandung di awal pembentukannya sebagai ibukota kabupaten, kemudian meningkat menjadi Ibukota Karesidenan dan kemudian menjadi Gementee. Pembangunan untuk pemukiman warga keturunan Belanda dan Eropa ditempatkan bagian utara Bandung dengan batas Jalan Raya Pos, sedangkan kaum pribumi ditempatkan di wilayah bagian selatan kota Bandung.

Kawasan yang dipilih menjadi kawasan komersial khusus bagi warga kota keturunan Eropa, adalah kawasan Bragaweg. Sebagai bukti bahwa fasilitas hiburan dan belanja di kawasan Braga khusus bagi orang-orang keturunan Eropa adalah papan larangan di pintu masuk Bioskop Majestic yang berbunyi “verboden voor honden en inlander” (anjing dan orang pribumi dilarang masuk). Hal ini menunjukkan politik Apharteid dalam bentuk lain juga pernah terjadi di kota Bandung.

Gagasan membangun Braga menjadi kawasan De meest Europeesche Winkelstraat van Indie atau kawasan belanja bergengsi di Hindia Belanda berasal dari ambisi Burgemeester (Walikota) Bandung, yaitu B. Coops (1917-1928). Gagasan tersebut direalisasikan oleh dua teknisi di Gemeente Bandung, yaitu Ir. J.P. Thysse dan Ir E.H. de Roo. Hasilnya adalah penerapan aturan berkenaan dengan pembangunan bangunan toko di Bragaweg. Aturan tersebut menyebutkan bahwa setiap bangunan toko yang didirikan di kawasan Bragaweg harus berarsitektur gaya barat (Eropa) dengan sempadan jalan “Nol”.

Untuk membangun lingkungan yang serasi sebagai pusat kota, perancang Ir. H. Maclaine Pont pada tahun 1928 membuat rencana perbaikan kawasan di sekitar Sungai Cikapundung atau yang dikenal dengan nama Tjikapoendoengplan. Kawasan tersebut meliputi daerah yang dikelilingi oleh Groote postweg, Bragaweg, dan Banceuyweg. Kawasan tersebut diperuntukan sebagai kawasan pertokoan dan perkantoran. Namun dengan berbagai alasan rencana tersebut terhenti dan baru dilanjutkan oleh Ir. Thomas Kartsen pada tahun 1938 yang pengerjaannya dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Selain itu, dibangun pula jalan yang menghubungkan Oude Hospitalweg dengan Bragaweg, terus menuju arah barat sampai berakhir di pertigaan ujung Banceuyweg (sekarang jalan Suniaraja). Jalan-jalan tersebut merupakan penggalan dari rencana Gemeente Bandung membangun Tjikapoendoeng-boulevard yang bertujuan untuk membebaskan Bragaweg dari lalu lintas kendaraan. Tjikapoendoeng-boulevard letaknya sejajar Sungai Cikapundung menghubungkan Groote postweg dengan Landraadweg. Jalan ini merupakan penghubung bagian selatan dengan bagian utara Kota Bandung tanpa harus melewati jalan Braga atau Jalan Banceuy. Sayang, rencana prestisius tersebut tidak sampai terwujud, pemerintah kolonial Belanda baru menyelesaikan empat jembatan beton bertulang yang melintasi Sungai Cikapundung serta dua jalur jalan di bawah Viaduct kereta api dan dua ruas jalan yang menghubungkan Grootepostweg dengan ABC Straat. Setelah Indonesia merdeka, proyek tersebut tidak pernah mengemuka kembali padahal jika terwujud maka dapat mengatasi permasalahan lalu lintas di sekitar kawasan Braga.

SARANA PEREKONOMIAN DAN PERDAGANGAN DI KAWASAN BRAGA

Semenjak ditetapkan sebagai kawasan De meest Europeesche Winkelstraat van Indie atau kawasan belanja bergengsi di Hindia Belanda, Bragaweg mulai dipenuhi bangunan toko megah dan indah karya arsitek terkenal masa itu. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, semua bangunan toko dibangun dengan arsitektur gaya Eropa. Sepanjang Jalan Braga berdiri gedung-gedung karya perancang terkenal, seperti Schoemaker bersaudara (RLA Schoemaker dan CP Wolf Schoemaker), AF Aalbers, Ed Cuypers dan sebagainya. Berdasarkan peruntukkannya, bangunan yang dibangun di Bragaweg tidak semuanya diperuntukkan sebagai toko atau ruang pamer, karena di antaranya diperuntukkan untuk bank dan kantor perusahaan dagang milik pemerintah atau swasta.

Hasil rancangan Schoemaker bersaudara di kawasan Braga, adalah Bioskop Majestic, Gedung Landmark, Gedung Center Point, Gedung Perusahaan Gas Negara dan Gedung Perusahaan Minyak Insulinde. Bangunan rancangan Ed Cuypers adalah bangunan Javasche Bank (sekarang gedung Bank Indonesia), bangunan baru toko de Vries. Bangunan hasil rancangan AF Aalbers, adalah gedung LKBN Antara dan gedung Bank De Ferste Neanderlandsch-Indie Spaarkas en Hypotheekbank (DENIS), kini gedung Bank Jabar Banten.

Masing-masing arsitek menampilkan ciri khas masing-masing pada gedung rancangannya. AF Aalbers menampilkan gaya arsitektur bangunan yang khas, yaitu dibangun dengan pola garis-garis dan sudut yang melingkar serta sebagai penanda atau penunjuk bangunan, AF. Aalbers juga menambahkan menara pada bangunan rancangannya. Gedung Bank DENIS atau sekarang gedung Bank Jabar Banten, sisi timur Societet Concordia atau sekarang Gedung Museum KAA, Gedung LKBN Antara, dan Hotel Savoy Homann merupakan gedung-gedung yang dirancang oleh arsitek AF. Aalbers. Gedung-gedung tersebut memiliki kemiripan bentuk, yaitu melingkar mengikuti sudut jalan di depannya.

Schoemaker bersaudara yang banyak merancang bangunan di Kota Bandung, termasuk bangunan toko dan kantor di Jalan Braga. Bangunan yang dirancangnya mempunyai kekhasan karena menggabungkan gaya arsitektur Eropa dengan corak bangunan tradisional Nusantara atau Indo-Europeeschen architectuur stij. Pada bangunan Bioskop Majestic, CP. Wolff Schoemaker memasang ornamen hias berupa kepala Batara Kala dalam ukuran besar dan dipasang di atas pintu masuk utama gedung Bioskop. Tidak jauh berbeda dengan Bioskop Majestic, bangunan toko buku dan percetakan Van Dorp & Co atau sekarang dikenal sebagai gedung Landmark merupakan gedung yang dilengkapi dengan ornamen kepala Batara Kala sebagai hiasan pada interior dan eksteriornya.

Bioskop Majestic, merupakan gedung bisokop yang terletak berdampingan dengan Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Bangunan ini dibangun pada tahun 1924 oleh Biro Arsitek Soenda berdasarkan rancangan Wolff Schoemaker. Awalnya bangunan ini bernama Concordia Bioscoop, baru pada tahun 1937 berganti nama menjadi Majestic Theatre. Pada zaman Belanda, Bioskop ini sangat terkenal dan merupakan Bioskop paling elit dan paling eksklusif di Kota Bandung karena hanya orang-orang keturunan Eropa yang boleh masuk. Hal ini terlihat dari tulisan “verboden voor honden en inlander” (dilarang masuk bagi anjing dan orang pribumi) di pintu masuk ruang pertunjukan. Bagian luar gedung Majestic berbeda dengan gedung lain di sekitarnya, bagian atasnya tampak mirip kaleng biskuit sehingga orang-orang menyebutnya blikken trommel. Keunikan lainnya dari gedung Bioskop Majestic, adalah terdapatnya simbol lokal pada bangunan tersebut, yaitu ornamen penghias gedung berbentuk kepala Batara Kala dengan ukuran cukup besar yang dipasang di atas pintu masuk utama. Pada masyarakat Indonesia, Batara kala dipercaya dapat mengusir pengaruh buruk yang mungkin datang atau sebagai tolak bala.

Bangunan lainnya di Jalan Braga hasil rancangan Schoemaker bersaudara adalah Gedung Perusahaan Gas Negara atau Nederlandsch Indische Gas Maatschappij (NIGM) dan Gedung Perusahaan Minyak Insulinde. Gedung Gas Negara hingga tahun 1920-an sempat dipergunakan sebagai Societeit Harmonie, sedang Perusahaan Gas Negara menempati gedung ini pada awal tahun 1930. Gedung Perusahaan minyak NV. Insulinde, adalah gedung yang letaknya persis di seberang barat Gedung Javasche Bank, tepat di pinggir utara rel kereta ppi. Pada awalnya gedung ini merupakan gedung Perusahaan Minyak NV. Insulinde, namun pada tahun 1927 gedung ini dibeli oleh Gemeente Bandung dan pada tahun 1928 diperluas dengan membuat bangunan tambahan dengan bentuk yang sama persis dengan bangunan lama. Setelah selesai, pada tahun 1930-an gedung ini dipergunakan sebagai kantor Karesidenan Priangan yang sebelumnya berkantor di Grootepostweg samping timur Hotel Homann.

Arsitek lainnya, yaitu Ed Cuypers merancang gedung Javasche Bank yang sekarang dipergunakan sebagai gedung Bank Indonesia. Posisinya berada di ujung utara Jalan Braga dan berseberangan dengan Gedung NV. Insulinde. Saat pertama kali dibangun pada tahun 1909, gedung Javasche Bank masih berupa bangunan sederhana dan menghadap ke arah utara, yaitu ke Kerklaan (sekarang jalan Perintis Kemerdekaan). Ketika Ed Cuypers menyelesaikan bangunan ini pada tahun 1918, Bangunan Javasche Bank jauh lebih besar dan lebih megah dibanding sebelumnya. Selain itu, gedung ini menghadap ke arah Jalan Braga. Arsitektur Gedung Javasche Bank merupakan arsitektur yang unik, karena merupakan arsitektur perpaduan gaya Eropa dengan gaya tradisional Indonesia. Ukiran yang merupakan ornamen tradisional dipadu-padankan dengan pilar penyangga yang besar dan kekar sehingga menjadikan bangunan ini indah dan megah (Hutagalung dan Nugraha, 2008:144-146).

POSISI STRATEGIS BRAGAWEG SEBAGAI KAWASAN KOMERSIAL

Secara geografis, suatu tempat di muka bumi disebut strategis jika mudah dijangkau, baik secara waktu tempuh maupun jarak untuk mencapai lokasi tersebut. Selain itu, strategis tidaknya suatu kawasan juga dilihat dari daya dukung wilayah sekitar terhadap kawasan tersebut dan sebaliknya pengaruhnya terhadap kawasan sekitar. Bagi lokasi perdagangan, keterjangkauan wilayah akan menentukan tingkat keberhasilan lokasi tersebut sebagai lokasi strategis secara ekonomi. Sebuah lokasi perdagangan yang strategis, adalah mudah dijangkau oleh semua pelaku perdagangan, yaitu pedagang dan pembeli.

Berdasarkan konsep lokasi strategis tersebut, penataan kawasan di sekitar Alun-alun Bandung dan stasiun kereta api ditetapkan sebagai kawasan bisnis atau perdagangan, termasuk di dalamnya kawasan Braga yang ditetapkan sebagai kawasan De meest Europeesche Winkelstraat van Indie oleh pemerintah kotapraja (Gemeente) Bandung. Bila melihat kondisi tersebut, maka penetapan kawasan Braga sebagai kawasan perdagangan khusus bagi keturunan Eropa didasarkan atas beberapa faktor pendukung, yaitu :

1. Kawasan Braga berada di pusat Kota Bandung, dimana kawasan tersebut menghubungkan Jalan Raya Pos dengan wilayah Bandung bagian utara yang merupakan kawasan permukiman warga keturunan Eropa. Sehingga mereka dapat dengan mudah mencapainya.

  1. Keberadaan kawasan Braga di tengah kota juga memudahkan para preangerplanter (pengusaha perkebunan) yang tersebar di berbagai perkebunan sekitar Bandung untuk mencapainya. Mereka biasanya datang ke Kawasan Braga untuk berbelanja barang kebutuhan sehari-hari dan mencari hiburan.
  2. Jauh sebelum ditetapkannya Braga sebagai kawasan pelesir khusus, kawasan ini sudah menjadi tempat berkumpulnya para para Preangerplanter (pengusaha perkebunan). Mereka biasanya berkumpul di Societet Concordia (gedung Merdeka, sekarang).
  3. Kawasan Braga lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta api dan Jalan Raya Pos yang merupakan akses penting bagi lalu lintas barang dan jasa, serta para pelancong yang datang dari luar kota.

Lokasi strategis Braga juga didukung oleh jaminan keamanan dan kenyamanan bari pengunjungnya. Posisinya yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung di Selatan dan Kotapraja Bandung di Utara menjadikan kawasan ini terlindungi dari segala gangguan keamanan yang mungkin muncul karena konsentrasi pihak keamanan akan difokuskan untuk menjaga keamanan di sekitar dua kantor pemerintahan Bandung.

Sepanjang Jalan Braga banyak terdapat toko-toko yang menyediakan semua barang-barang kebutuhan masyarakat Eropa di Bandung, berupa sandang, pangan, dan kebutuhan lainnya yang bersifat tersier seperti toko perhiasan, kamera, perlengkapan kereta kuda, dan agen kendaraan bermotor. Toko-toko tersebut menjual hasil produk sendiri, dan sebagai cabang atau perwakilan toko sejenis yang berpusat di Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa segaa kebutuhan warga kota dapat diperoleh di Braga.

Toko yang pertama didirikan di Kawasan Braga, adalah toko senjata api milik C.A. Hellerman yang didirikan pada tahun 1894. Selain menjual senjata, toko ini juga menjual bermacam-macam kereta kuda, sepeda dan sebagai bengkel perbaikan senjata. Toko berikutnya, adalah toko milik “NV. Handelmy-C.M. Luyks” yang didirikan pada tahun 1898 yang menjual kamera, alat kantor, gramophones, meja bilyar dan terakhir menjadi Toko Provisien en Dranken (P en D) terbesar di Bandung. Agen mobil dan pusat perawatannya yang terbesar di Bandung, yaitu “Fuch & Rens” didirikan pada tahun 1919 di Kawasan Braga. Perusahaan ini merakit mobil merk Packard, Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault dan vracht-auto merek Fargo. Ruang pamer mobil ini menjadi tujuan utama para Prangerplanter yang bermaksud mengganti mobil lama dengan yang lebih baru (Kunto, 1984: 306-307).

Toko busana yang terkenal di jalan Braga adalah Toko Mode Au Bon Marche Modemagazijn. Toko Au Bon Marche dibuka oleh A. Makkinga pada tahun 1913. Pada masa kejayaannya, toko ini merupakan butik bagi busana-busana terbaru dari pusat mode Paris. Toko busana lainnya yang terkenal, adalah NV. Onderling Belang yang merupakan cabang ke dua dari toko sentra mode di Amsterdam, cabang pertama dibuka di Surabaya. Toko ini berada persis di seberang Toko Mode Au Bon Marche yang dibuka pada tahun 1910-an dan menjadi pesaing utama toko Au Bon Marche. Berbeda dengan Au Bon Marche yang menawarkan busana terbaru asal Paris, NV. Onderling Belang menawarkan mode busana asal Amsterdam dengan harga yang relatif lebih murah dibanding dengan harga Au Bon Marche (Hutagalung dan Nugraha, 2008: 68-75). Setelah kemerdekaan, toko mode NV. Orderling Belang berganti nama menjadi toko Sarinah dengan barang dagangan utamanya adalah busana dan kain Batik. Dewasa ini, kondisi kedua bangunan bekas toko mode tersebut tidak terawat dan rusak berat yang jika dibiarkan akan semakin merusak struktur bangunan.


PENUTUP

Ketika Daendels membangun Jalan Raya Pos, Bandung hanyalah sebuah kampung kecil di tengah belantara tropik pulau Jawa dan Daendels memiliki harapan besar terhadap kota ini, “Zorg, dat als ik terug komhier een stad is gebouwd !” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun). Keinginan Daendels tersebut mendorong para pengambil kebijakan di tatar Bandung masa itu untuk melakukan pembangunan berbagai fasilitas pendukung perkotaan dan gedung-gedung dengan berbagai gaya arsitektur berdiri megah menghiasi wajah Kota Bandung.

Penentuan Braga sebagai kawasan belanja khusus bagi warga keturunan Eropa telah merubah wajah Karrenweg dari sebuah jalan tanah yang becek di musim penghujan menjadi kawasan belanja paling terkenal di Bandung tempo dulu, terutama akan kualitas barang yang dijajakannya. Selain itu, gedung perkantoran serta ruang usaha dengan berbagai gaya arsitektur barat berdiri megah menghiasi kiri kanan jalan dan sebagian di antaranya masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Keberadaan gedung-gedung tua di sepanjang Jalan Braga merupakan peninggalan yang sangat bernilai bagi generasi berikut, karena gedung-gedung tersebut merupakan bukti perjalanan sejarah bangsa. Banyak cerita suka dan duka perjalanan bangsa ini yang tersimpan di balik megahnya gedung tua. Selain itu, keberadaan gedung-gedung tua dengan berbagai gaya arsitektur yang menawan dan memperlihatkan keindahan serta kemegahan dapat menjadi oase di tengah seragamnya gaya arsitektur bangunan di perkotaan.

Kawasan Braga dengan sebagian besar bangunannya masih merupakan bangunan lama dan kebesaran nama yang pernah disandangnya merupakan potensi yang dapat mendatangkan wisatawan, terutama wisatawan dengan minat khusus yaitu wisata nostalgia atau wisata sejarah, wisata belanja, wisata kuliner dan wisata pendidikan. Banyak wisatawan yang datang ke Braga, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing tujuannya ingin menikmati keindahan dan kemegahan bangunan di kawasan yang dahulunya pernah menyandang nama besar sebagai kawasan belanja eksklusif khusus bagi warga kota keturunan Eropa. Selain itu, tidak sedikit mahasiswa dan pelajar yang datang ke Kawasan Braga untuk mempelajari arsitektur gedung tua di sepanjang jalan tersebut. Kondisi ini merupakan potensi yang dimiliki Kawasan Braga dan tidak dimiliki kawasan lainnya di Bandung, sehingga perlu pemeliharaan bangunan-bangunan tua agar tidak hancur dimakan usia serta perlunya penggalian berbagai ide kreatif yang sesuai dengan kondisi Braga.

Sebagai akses ke utara Bandung dari kawasan pusat kota menjadikan ruas jalan Braga sebagai kawasan yang padat. Penataan tata lalu lintas di kawasan ini perlu mendapat perhatian sehingga dapat dijadikan sebagai kawasan Pedestarian yang memberi kenyamanan kepada pejalan kaki dalam menikmati keindahan dan kemegahan gedung-gedung tua sepanjang Braga yang berdiri kokoh menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Bandung. Upaya-upaya tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke Braga. Jika harapan tersebut dapat terwujud maka julukan sebagai Jalan Intelek (Jalan Kelas Utama) akan kembali melekat pada Jalan Braga serta kembali menjadi ikon bagi wisata belanja dan wisata kota tua kebanggan Bandung.

Daftar Pustaka

Affandie, R.M.A., 1969. Bandung Baheula 1-2. Bandung : Guna Utama

Daldjoeni, N. 1988. Geografi Kota dan Desa. Bandung : Alumni.

Harastoeti DH. 2010. “Braga dan Permasalahannya” Makalah pada Seminar Pelestarian Kawasan Kota Lama Braga. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Bandung (20-04-2010)

Hardjasaputra, A.Sobana. 2000. Bandung dalam : Lubis, N.H., dkk. (2000) Sejarah Kota-kota lama di Jawa Barat. Bandung : Alqaprint.

Hutagalung, Ridwan dan Nugraha, T. 2008. Braga, Jantung Parijs van Java. Jakarta : Ka Bandung.

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandung Tempo Doeloe. Bandung : Granesia

Kunto, Haryotio 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung : Granesia

Kunto, Haryoto. 1996. Ramadhan di Priangan tempo doeleoe. Bandung : Granesia

Padmadinata, Tjetje. H. 2010. Identitas Bandung. Bandung : Rumah Baca Buku Sunda

Rosidi, Ajip. ed. 2000. Ensiklopedi Sunda . Jakarta : Pustaka Jaya

Suganda, Her. 2008. Jendela Bandung, pengalaman bersama Kompas. Jakarta : Kompas.

Sumaatmadja, Nursid. 1988. Studi Geografi, Suatu pendekatan dan Analisa Keruangan.. Bandung : Alumni.

Sunarwibowo, Anton. 2010. “Revitalisasi Kawasan Jalan Braga sebagai Kawasan Strategis Kota Bandung”. Makalah pada Seminar Pelestarian Kawasan Kota Lama Braga. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Bandung (20-04-2010)

Jumat, 08 April 2011

Taman Ganeca, Taman Monumen di kota Bandung

ku: Iwan Hermawan


Panunjuk arah jeung luhurna Gunung nu aya dipasang di tembok panggung taman Ganeca nu nepi ka kiwari masih aya. (Sumber : Dok. Nunulis, 2010)



Keur urang Bandung atawa tukang ulin ti luar kota pasti geus teu asing ka ngaranan jalan Ganeca, jalan anu ngahubungkeun Jalan Tamansari jeung Jalan Dago anu dina poe pere sok pinuh kunu ngadon ulin, ngadon naek kuda atawa delman puputeran di sabudeureun jalan Ganeca bari ngararasakeun hawa seger kota Bandung anu masih bisa dirasakeun di kawasan ieu. Sedeng dina poe biasa (lain poe pere), ieu jalan rame ku mahasiswa anu karuliah di ITB.
Lingkungan jalan Ganeca ngarupakeun saeutik diantara oase anu masih nyesa di kota Bandung, can kagusur ku rupa-rupa kapentingan anu nga-atasnamakeun pangwangunan. Tangkal-tangkal gede anu umurna geus kolot masih rajeg ngabaris di dua sisi jalan ngiuhan nu lalar liwat di handapna.

Jalan anu linduh ku tatangkalan, oge dilengkepan ku taman anu lumayan lega, legana kurang leuwih 9.607 m2 sarta pinuh ku tutuwuhan perdu jeung tempat paranti diuk atawa nangkring ngararasakeun hiliwirna angin beurang di tengang kasibukan patalimarga. Taman ieu diwanoh ku masarakat ngaranna taman Ganeca, sarua jeung ngaran jalan anu aya di hareupeunna. Taman anu nyambungkeun jalan Ganeca jeung Jalan Gelap Nyawang, diwatesan ku Masjid Salman di beulah wetan sarta Jalan Skanda di beulah kulon, bentukna lonjong (oval) sarta dilengkepan ku balong buleud lengkep jeung cai muncrat. Balong cai muncrat pernah dileungitkeun, ngan dina renovasi jeung revitalisasi taman ganeca taun 2003 dimunculkeun deui kalawan diwangun buleud sarta leuwih luhur ti lahan sabudeuren. Hanjakal ieu balong teu dipiara kalawan bener, caina hejo ku lukut sarta dasarna pinuh ku leutak. Lian ti eta cai muncrat geus teu dipungsikeun. Hal ieu katiten tina ayana jukut nu jaradi dina munara paranti kaluarna cai muncrat.

Pikeun asup ka ieu taman, panto utama aya di beulah kaler jeung kidul, di Jalan Ganeca jeung di Jalan Gelapnyawang. Lian ti eta oge aya panto leutik di beulah wetan, ti masjid Salman sarta di beulah kulon, ti jalan Skanda. Satutasna di renovasi jeung direvitalisasi taun 2003, taman Ganeca oge dilengkepan ku jalur husus pikeun nu nyandang cacat anu posisi na di deukeut panto gerbang utama. Hal ieu nembongkeun yen ieu taman disadiakeun pikeun warga kota ti sakabeh golongan, tanpa aya perbedaan.

Aktipitas masarakat di ieu taman lumayan rame jeung rupa-rupa, lamun poe minggu pinuh ku barudak sakola jeung mahasiswa anu aktip di Masjid Salman ngadon ngariung dina kelompok-kelompok leutik nyawalakeun jeung diajar kaagamaan. Lian ti eta, sapopoena di ieu taman loba aktipitas rekreasi anu dilakukeun ku masarakat ti rupa-rupa kalangan. Barudak leutik ngadon maen bal bari papanasan atawa huhujanan, ibu-ibu ngora anu ngadon ngasuh budakna bari ngarumpi jeung papadana, mahasiswa jeung mahasiswi anu ngadon diskusi atawa saukur ngareurehkeun awak bari maca, atawa bapa-bapa jeung pamuda anu ngadon nguseup di balong cai muncrat, oge teu tinggaleun tukang dagang anu mangkal di luareun pager taman sarta tukang dagang ngider anu nawarkeun dagangan ka pangunjung ngarupakeun pamandangan ilahar di ieu taman. Nilik kana rupa-rupa aktipitas anu dilakukeun di ieu taman, tembong kumaha pentingna ieu lahan pikeun aktipitas rekreasi jeung sosial warga masarakat Bandung.

Taman Monumen
Dina awal abad ka-20, pamarentah kolonial Walanda mimiti nerapkeun pola tata ruang kota anu dikenal “Indische Koloniaale Stad” (kota kolonial di Hindia Walanda) pikeun ngamorderenkeun kota-kota gede di Indonesia, kaasup Bandung. Pola anu diterapkeun ku Walanda harita ditujukeun pikeun ngarancang, ngawangun jeung ngamekarkeun sabagean wilayah kota nu geus aya. Kawasan pamekaran kota sok disebut “kota anyar” (Nieuw Wijk) ngarupakeun kawasan anu husus dicadangkeun pikeun padumukan warga turunan Eropa, sedengkeun kawasan padumukan kaum pribumi mah ukur ditata liwat program panataan kampung atawa “Kampong-verbetering” (Kunto, 1986:215-216).

Numutkeun catetan sajarah, taman Ganeca diwangun taun 1919 ku Gemeente (pamarentah Kotapraja) Bandung pikeun ngalengkepan sarana prasarana kota Bandung. Lian ti pikeun tempat ulin warga kota, taman anu perenahna di hareupeun kampus Technische Hogeschool – THS (ITB, ayeuna) jeung dingaranan Ijzermanpark diwangun pikeun mieling Dr. Ir. Jw. Ijzerman anu gede jasana dina ngamajukeun dunya atikan, khususna widang tehnik, di Hindia Walanda pangpangna kota Bandung sarta gigih dina merjuangkeun ngadegna Technische Hogeschool – THS (ITB, ayeuna). Pikeun cirina, di gerbang taman dipasang patung dada Dr. Ir. J.W. Ijzerman nu nepi taun 1950an patung eta masih nangtung, taun 1960 patung dada Ijzerman diganti ku patung Ganeca sarua jeung ngaran jalan anu aya di hareupeun taman. Mun ayeuna neangan patung Ganeca, komo deui patung Ijzerman di taman Ganeca geus moal kapanggih deui, sabab geus robah jadi patung “tekno” rangka kubus tina baja tahan karat.

Dr. Ir. Jw. Ijzerman ngarupakeun pagawe di Jawatan Kareta Api Nagara (Staats Spoorwegen-SS) anu masing geus kolot, umur geus ucang-ucang kana jugang, masih mingpin pangwangunan jalur rel kareta api Batavia – Bandung liwat Purwakarta. Kurangna tanaga ahli dina pangwangunan rel kareta api “Preangerlijn” taun 1880-1886 ngadorong Ijzerman sabatur-batur ngirim petisi ka Pamarentah Pusat di Walanda anu eusina sangkan di Hindia Walanda bisa dibuka Paguron luhur bidang Tehnik pikeun kabeh golongan masarakat, kaasup kaum pribumi. Taun 1919 kalawan gawe bareng Kementrian Jajahan (Departement van Kolonien) jeung Insitut Insinyur Karajaan Walanda (Koninklijk Instituut van Ingenieurs) resmi ngadeg Institut Karajaan pikeun Paguron Luhur Tehnik di Hindia Walanda (Koninklijk Instituut voor hooger technisch onderwijs in Nederland Indie) kalawan modal awal sagede tilu juta gulden injeuman ti pamarentah. Pikeun ngawujudkeun cita-citana, Ijzerman tanpa ragu masrahkeun kabeh tabunganna anu gedena 100.000 gulden pikeun ngeusian dana pangwangunan Paguron Luhur Tehnik rintisannna (Kunto, 1986: 362-363).

Nilik kana bentukna, taman Ganeca boga ciri mandiri anu beda jeung taman-taman lianna di kota Bandung. Nalika dijieun, bentuk jeung gaya taman Ganeca ampir sarupa jeung Taman Tropis Indonesia (Indische Tropische Park) nu dirancang ku Bandoeng Vooruit (kumpulan pariwisata Bandung), bedana masih tembong unsur gaya taman Perancis jeung Italia abad pertengahan nu kaciri tina bentukna anu simetris, nyengked jeung dilengkepan ku susunan tangga di dua belah sisina. Ieu taman dilengkepan oge ku balong cai muncrat di tengahna lengkep jeung kembang tarate. Lian ti eta, boga buruan (panggung) keur nempo taman anu bentukna satengah buleud di panto asup beulah kaler nu posisina leuwih luhur. Anu ngabedakeun Ijzermanpark jeung taman-taman Istana di Eropa abad pertengahan, nyaeta pepelakan anu dipelakna jenis pepelakan tropis. Kondisi ieu beda jeung kaayaan ayeuna sabab geus ngalaman parobahan sababaraha kali, terahir taun 2003 ieu taman direnovasi jeung direvitalisasi ngarah teu tinggaleun jaman, ayeuna di titik pusat taman anu ngarupakeun lapang buleud nu ditembok dijieun tugu tina logam anu diluhurna dipasangan Laptop nu keur muka nyanghareup ka kampus ITB, sarta balong cai muncrat anu pernah diurug diwangun deui ngan posisina leuwih luhur tibatan lahan sabudeurenna. Lian ti eta, bangku-bangku taman dijieun tina beton anu ditiungan ku tatangkalan rambat jeung dipasangan steker listrik pikeun pangunjung anu ngabutuhkeun listrik ngan ayeuna mah geus teu pungsi saukur jadi hiasan bangku. Hal ieu nunjukkeun taman Ganeca pasca renovasi jeung revitalisasi dina taun 2003 konsepna jadi taman anu ngadukung pikeun kagiatan atikan warga Bandung, hususna pelajar jeung mahasiswa. Hanjakal kurang pamiaraan akibatna pungsi taman melenceng tina cita-cita atawa tujuan awal.Kaistimewaan anu kapanggih di taman Ganeca tapi teu aya di taman-taman lianna di Bandung, nyaeta panunjuk arah gunung jeung luhurna ti laut nu aya di sabudeureun Bandung anu bisa dititen ti buruan (panggung) keur nempo taman anu bentukna satengah buleud di panto asup beulah kaler taman Ganeca, nyaeta gunung-gunung anu aya di wetaneun, kiduleun nepi ka kuloneun Bandung. Panunjuk arah ieu dipahat dina marmer segi opat anu dipasang di luhur tembok wates panggung jeung taman. Nepi ka kiwari kondisina masih alus jeung kabaca keneh. Ngaran-ngaran gunung anu bisa dititen ti ieu tempat, nyaeta ti wetan ka kidul : G. Manglayang (1611 m), G. Tampomas (1683 m), G. Mandalawangi (1650 m), G. Graha (1159 m), G. Jaya (2416 m), jeung G. Papandayan (2660 m); sarta ti kidul ka kulon, nyaeta : G. Kendang (2607 m), G. Masigit (2076 m), G. Dayeuhluhur (1010 m), jeung G. Lalakon (970 m). Hanjakal gunung-gunung ieu geus teu katingali ti taman Ganeca, sabab geus loba wangunan di sabudeureun taman Ganeca nu ngahalangan. Mun hayang nempo gunung-gunung anu ngaranna dipahat di taman Ganeca ayeuna mah kudu ka daerah nu leuwih luhur, saperti Dago tee house atawa taman budaya Jawa Barat kitu oge lamun can kahalangan. Namung, pahatan ngaran gunung jeung luhurna nu aya sabudeuren Bandung bisa dijadikeun bahan pikeun urang salaku kolot dina ngawanohkeun kaayaan geografi lingkungan Bandung, hususna ngenalkeun ngaran gunung-gunung anu ngajega di sisi Bandung.
Panutup

Taman Ganeca geus ampir dua abad jadi salah sahiji ruang terbuka hejo kota Bandung. Rupa-rupa aktipitas masarakat dilakukeun di ieu taman geus nembongkeun pentingna ieu taman pikeun kahirupan sosial warga kota Bandung. Hanjakal pamiaraan nu kurang ngajadikeun ieu taman beuki lila beuki kumuh anu lamun terus diantepkeun bakal leungiteun dangiangna jeung pasti warga kota oge bakal males datang ka taman lamun sareukseuk mah, padahal taman ngarupakeun tempat rekreasi anu sipatna terbuka jeung murah anu bisa dirasakeun ku sakabeh lapisan masarakat.

Lamun nilik kana sajarah yen Bandung dijieun kalawan make konsep kota taman, pasti lamun taman-taman anu aya di Bandung dipiara dihade-hade sarta dipertahankeun wujud aslina pasti bakal bisa jadi daya tarik pikeun para wisatawan, boh lokal pon kitu deui mancanagara, daek datang ka ieu kota kalawan tujuanna henteu saukur balanja tapi boga tujuan hayang ngasakeun endahna taman-taman nu aya di kota Bandung. Mudah-mudahan cita-cita urang Bandung hayang boga kawasan hejo anu bisa diakses ku sakabeh warga kota bisa kawujud.

(dimuat dina majalah CUPUMANIK edisi Maret 2011)

Senin, 13 Desember 2010

BANDUNG SEBAGAI IBUKOTA HINDIA BELANDA


*) Tulisan ini diterbitkan dalam buku "ARKEOLOGI MASA KINI" penerbit : Alqaprint - Jatinangor, Tahun 2010.


Oleh : Iwan Hermawan

Abstract

The city of Bandung was began when daendels built the highways postal (de groote postweg) in 1808. At that time, Bandung nowadays formely was a transferred capital from a place called Krapyak. This transformation had change Bandung become vastly developed place from a remote-tropical village to a centre of governement place in many purpose including as military based exiled capital of Netherlands kingdom.

The planing of Bandung as the Netherland Indische capital, has also encouraged the Dutch government to centralized their military forces in area nearest of Bandung, ie by making Cimahi as the center of the Dutch military, and The weapons and Munitions factories were moved to Bandung, and built the defense buildings in Sumedang.

Kata Kunci :

Kota Bandung; kolonial Belanda; bangunan pertahanan; pusat pemerintahan.

Pendahuluan

Perjalanan kota Bandung dimulai ketika Gubernur jenderal Daendels (1808-1811) merencanakan pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer di pantai barat Pulau Jawa sampai Panarukan di pantai timur Pulau Jawa pada tahun 1808. Pada masa itu, Bandung merupakan wilayah di pedalaman Pulau Jawa dan menjadi salah satu daerah yang dilalui ruas jalan tersebut. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah untuk memperkuat pertahanan pulau Jawa dari kemungkinan serangan pasukan Inggris yang ketika itu sudah memblokade pelayaran di Laut Jawa. Sebelum pembangunan Jalan Raya Pos, kota Bandung sekarang hanyalah sebuah kampung kecil di tengah belantara hutan tropis yang dikenal dengan sebutan Tatar Ukur. Pusat pemerintahan kabupaten Bandung pada masa itu adalah Krapyak, sebuah daerah di tepi sungai Citarum sekitar 11 km arah selatan dari posisi Kota Bandung sekarang.

Keberadaan Jalan Raya Pos berhasil merubah wajah Bandung, dari sebuah kampung di tengah hutan belantara menjadi sebuah kota yang terus berkembang hingga menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Sebuah kota yang jika dipandang dari berbagai aspek kehidupan memiliki nilai strategis, terutama secara ekonomi, politik dan militer.

Pembangunan Bandung dimulai ketika Daendels memerintahkan bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk memindahkan ibukota kabupaten Bandung dari Krapyak ke tepi Jalan Raya Pos. Perintah tersebut dilaksanakan oleh bupati dengan pertama-tama mencari lahan yang tepat untuk calon ibukota yang tentunya didasarkan pada berbagai pertimbangan, termasuk perhitungan mistik. Setelah mencari lahan untuk ibukota Kabupaten Bandung yang sesuai dengan kriteria gubernur jendral dan persyaratan adat istiadat, akhirnya sebidang lahan di tepian barat Sungai Cikapundung dan di tepi selatan Jalan Raya Pos ditetapkan sebagai bakal pusat pemerintahan kabupaten Bandung.

Dorongan percepatan pembangunan Bandung untuk menjadi sebuah kota juga dilakukan Daendels ketika melakukan inspeksi pembangunan Jalan Raya Pos di sekitar pendopo kabupaten Bandung sekaligus meresmikan jembatan yang melintasi Sungai Cikapundung. Setelah berjalan menyebrangi jembatan yang baru selesai dengan diiring oleh para pejabat, termasuk bupati R.A. Wiranatakusumah II, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug komhier een stad is gebouwd !” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun).

Pembangunan Bandung yang berjalan dengan pesat telah menjadikan kota ini menjadi salah satu kota strategis di Hindia Belanda, statusnya terus meningkat dari waktu ke waktu. Mulai dari ibukota kabupaten Bandung, kemudian meningkat menjadi Ibukota Karesidenan Priangan, dan ditingkatkan kembali menjadi Gemeente (kota), Stadsgemeente (kota besar), serta diproyeksikan untuk menjadi Ibukota Hindia Belanda, bahkan pernah diwacanakan untuk menjadi ibukota kerajaan Belanda di pengasingan saat Negeri Belanda berada di bawah pendudukan pasukan Nazi Jerman. Berbagai fasilitas pendukung sebuah kota terus didirikan guna melengkapi kota ini, terutama fasilitas permukiman, gedung perkantoran, kesehatan, perekonomian, dan pendidikan.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian penulis dalam mengungkap latar belakang direkomendasikannya Bandung sebagai calon ibukota Hindia Belanda menggantikan Batavia yang dianggap sudah tidak layak sebagai pusat pemerintahan. Untuk menggali data dan informasi yang diperlukan, penulis melakukan studi literatur terhadap berbagai literatur yang berhubungan dengan Sejarah dan Geografi Kota Bandung. Data dan informasi tersebut kemudian dianalisis secara keruangan sesuai dengan fokus perhatian tulisan ini.

Dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota Nusantara

Pembangunan kota Bandung dimulai pada zaman pemerintahan gubernur jenderal Daendels, tepatnya ketika Daendels mengeluarkan perintah kepada Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibukota kabupaten Bandung dari Krapyak (sekarang dikenal dengan nama Dayeuhkolot) ke dekat Jalan raya Pos. Perintah Daendels tersebut disampaikan melalui Surat tertanggal 25 Mei 1810 (Hardjasaputra, 2000).

Perintah pemindahan ibukota kabupaten tersebut, dilaksanakan oleh bupati Bandung dengan langkah nyata, yaitu dengan membangun sarana prasarana penunjang ibukota pemerintahan. Sebelum menempati pendopo yang terletak di tepi barat sungai Cikapundung dan sisi selatan jalan raya Pos, Bupati R.A.Wiranatakusumah II pernah tinggal di Cikalintu (sekarang adalah daerah Cipaganti) dan membangun masjid kaum Cipaganti, kemudian pindah ke kampung Balubur hilir, dan selanjutnya pindah ke Kampung Bogor (sekarang dikenal dengan nama Kebonkawung) yang jaraknya tidak terlalu jauh dari jalan raya pos dan proyek pembangunan pusat pemerintahan kabupaten Bandung. Secara resmi perpindahan Ibukota Kabupaten Bandung dari Krapyak ke Bandung dilaksanakan pada tanggal 25 September 1810 (Hardjasaputra, 2000:121-122).

25 Mei 1810

Pemindahan Ibukota Kabupaten Bandung dan Parakanmuncang

Setelah memberitahukan dengan surat kepada penguasa Jakarta dan daerah pedalaman Priangan, bahwa ia telah mendengar ketika mengadakan inspeksi yang terakhir, bahwa ibukota Bandung dan Parakanmuncang terletak jauh dari jalan yang baru, sehingga pekerjan pembuatan jalan itu terlambat, oleh karena itu diusulkan untuk memindahkan ibukota tersebut, yaitu (ibukota) Bandung ke Cikapundung dan (ibukota) Parakanmuncang ke Andawadak, kedua tempat itu terletak di jalan besar dan selain itu sangat cocok dan disamping pemindahan yang telah disebutkan juga mengenai beberapa tanaman-tanaman akan dapat ditingkatkan karena lahan yang diusulkan menjadi ibukota dan sekitarnya sangat subur; bilamana keputusan usul mengenai pemindahan ibukota Bandung ke Cikapundung dan Parakanmuncang ke Andawadak tersebut diterima, mohon paduka memberikan otorisasi dan perintah yang harus dilaksanakan.

H.W. Daendels

(Sumber : Hardjasaputra, 2000 : 121)


Sejak selesai dibangunnya Jalan Raya Pos dan ibukota Kabupaten Bandung pindah dari Krapyak ke Bandung, pembangunan di segala bidang tiada berhenti walau sesaat. Setelah Inggris meninggalkan pulau Jawa, kedudukan daerah Priangan yang subur makmur semakin penting bagi perekonomian pemerintah kolonial sehingga berbagai fasilitas pendukung sebuah kota terus dibangun untuk memenuhi berbagai kebutuhan penghuninya. Pembangunan tersebut telah merubah wajah Bandung dari sebuah kampung yang berada di pedalaman hutan belantara menjadi sebuah kota yang strategis dan impian setiap orang.

Melihat posisi Bandung yang semakin strategis, pada tahun 1819, Dr. Andries de Wilde mengajukan saran kepada pemerintah Belanda agar ibukota Karesidenan Priangan dipindah dari Kabupaten Cianjur ke Kabupaten Bandung. Alasan pemindahan ibukota tersebut adalah agar dapat memberikan dampak positif dan mempermudah usaha pengembangan wilayah pedalaman Priangan. Usulan tersebut baru direspon oleh pemerintah pada tahun 1856, setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Charles Ferdinand Pahud, memerintahkan pemindahan Ibukota karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Perintah pemindahan tersebut baru dilaksanakan oleh residen Priangan, Van der Moore, pada tahun 1864 bertepatan dengan meletusnya Gunung Gede yang menggoncang Cianjur (Kunto, 1984:17-18).

Peningkatan status kota Bandung kembali terjadi, yaitu menjadi kotapraja (Gemeente) pada tanggal 1 April 1906. Peningkatan status ini didasarkan pada Undang-undang Desentralisasi(Decentralisatiewet) yang dikeluarkan pada tahun 1903; keputusan tentang Desentralisasi(Decentralisasi Besluit), dan Ordonansi Dewan Kota (Locale Raden Ordonantie) yang dibuat tahun 1905. Penetapan status kota Bandung menjadi Gemeente semakin memperkuat fungsinya sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan kolonial Belanda. Pada awalnya Gemeente dipimpin oleh Asisten Residen Priangan selaku pimpinan Dewan kota (Gemeenteraad), namun sejak tahun 1913Gemeente dipimpin oleh seorang burgemeester atau walikota (Kunto, 1986:122; Hardjasaputra, 2000:128). Pada tanggal 1 Oktober 1926, Kota Bandung kembali meningkat statusnya menjadiStadsgemeente. Dengan status baru tersebut, Bandung diberi wewenang untuk mengelola kota dan mengurus pemerintahannya sendiri (Kunto, 1986:122).

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum (1916-1921), timbul gagasan untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Gagasan tersebut bermula dari hasil studi tentang kesehatan kota-kota pantai di pulau Jawa oleh H.F. Tillema, seorang Ahli Kesehatan Lingkungan yang bertugas di Semarang. Hasil Studi tersebut menyimpulkan “Kota-kota Pelabuhan di pantai Jawa yang tidak sehat, menyebabkan orang tidak pernah memilih sebagai kedudukan Kantor pemerintah, Kantor Pusat Niaga dan Industri, Pusat Pendidikan dan sebagainya”. Hasil penelitian tersebut tidak mengecualikan Batavia, kota pelabuhan ini kurang memenuhi persyaratan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. Pada rekomendasi akhirnya, H.F. Tillemamerekomendasikan agar kota Bandung dipilih sebagai Ibukota Hindia Belanda yang baru menggantikan Batavia (Kunto, 1984: 248-249).

Usul pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung mendapat dukungan dari Prof. Ir. J Klopper, Rektor Magnificus Bandoengsche Technische Hoogeschool (sekarang dikenal dengan nama ITB) dan mulai dilaksanakan pada tahun 1920. Mulai saat itu, perpindahan kantor pemerintah dan Swasta dari Batavia ke Bandung mulai dilaksanakan. Instansi pemerintah yang memindahkan kantor pusatnya ke Bandung adalah Jawatan Kereta Api Negara (SS); P.T.T.; Departement van Geouvernements Bedrijven (GB) yang membawahi Dinas Pekerjaan Umum (BOW), Jawatan Metrologi (Tera), Jawatan Geologi dan sebagainya pindah dari Weltevreden (Gambir), Batavia pada tanggal 1 Januari 1921. Departement GB menempati Gedung Sate, sebuah bangunan yang dibangun dengan memakan biaya sebesar enam juta gulden dan dirancang oleh arsitek J. Gerber. Gedung ini merupakan gedung pemerintahan yang dianggap paling representatif di Hindia Belanda. Perpindahan tersebut disusul oleh pindahnya sebagian Departemen Perdagangan dari Bogor, Kantor Keuangan, Lembaga Cacar yang bergabung dengan Institut Pasteur yang telah berada di Bandung. Guna memperkuat pertahanan kota Bandung, Kementrian Pertahanan (Departement van Oorlog/DVO)secara bertahap telah memindahkan personilnya sejak tahun 1916 dan mulai menetap di Bandung pada tahun 1920 (Kunto, 1984:250-251). Selain itu, secara bertahap mulai tahun 1898 pabrik mesiu di Ngawi dan Pabrik Senjata atau Artillerie Constructie Winkel (ACW) di Surabaya dipindahkan ke Bandung. Pemindahan ini secara keseluruhan selesai pada tahun 1920. (Kunto, 1984:163-164).

Sebagai kota yang disiapkan sebagai Ibukota Hindia Belanda, Bandung melengkapi dirinya dengan Museum Geologi yang dipindah dari Batavia pada tahun 1924. Pada awalnya, Museum tersebut menumpang di Gedung Sate, baru pada tanggal 16 Mei 1929 diresmikan gedung baru yang tidak jauh dari Gedung Sate (sekarang adalah Gedung Museum Geologi). Selain itu, didirikan juga Museum Pos dan Tilpon atau Museum PTT yang menempati salah satu ruang di Gedung Sate (Kunto, 1984:253-254). Kedua Museum tersebut dibangun untuk melengkapi kantor pusat instansi mereka (Jawatan Geologi dan PTT) yang pindah dari Batavia ke Bandung.

Pada tahun 1920 Belanda menentukan Kampung Andir yang letaknya sebelah Barat dari kota Bandung sebagai lokasi lapang terbang baru menggantikan lapangan terbang di Sukamiskin. Alasan pemindahan adalah karena lapangan terbang Sukamiskin letaknya terlalu jauh dari kota Bandung dan secara teknis tanahnya terlalu banyak mengandung air. Pada tahun 1925, pemindahan lapangan udara dari Sukamiskin ke Andir selesai dan tanggal 26 Oktober 1925 resmi dipakai. Pada tahun 1928 di Hindia Belanda didirikan Koninkelijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), yaitu Perusahaan Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda. Rute penerbangan Batavia - Bandung dan Batavia - Semarang dibuka mulai 1 November 1928. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1930 lapangan terbang Andir dijadikan rute akhir bagi penerbangan Belanda - Hindia Belanda. (Koesman, 2002). Rute penerbangan dari Bandung ke Surabaya, Semarang, Palembang dan Singapura dimulai pada tahun 1930 (Kunto, 1986: 259). Uraian tersebut menunjukkan, lapangan terbang Andir sebagai salah satu lapangan terbang yang memiliki posisi penting di Hindia Belanda.

Setelah dihubungkan dengan transportasi udara, hubungan komunikasi radio mulai dikembangkan di Bandung khususnya dan di Hindia Belanda pada umumnya. Hubungan komunikasi radio dari Hindia Belanda ke Negeri Belanda secara resmi dibuka pada tanggal 5 Mei 1923. Hubungan tersebut dilakukan melalui Stasiun Pemancar Radio yang dibangun di lereng gunung Malabar, sedangkan hubungan Radio Telepon dalam negeri dipancarkan melalui stasiun pemancar yang dibangun di Rancaekek (Kunto, 259-262).

Kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda baru pindah ke Bandung pada awal Maret 1942, ketika posisi Belanda di Batavia sudah terdesak oleh Jepang. Melalui perjanjian di Kalijati, Subang pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda yang diwakili oleh Gubernur Jenderal Tjarba van Starkenburg Stakhouwer dan Letnan Jenderal Ter Poorten dilakukan pada tanggal 10 Maret 1942 di Balai Kota Bandung. Sesaat setelah penyerahan kedaulatan, kedua petinggi Belanda tersebut langsung ditawan Jepang dan dikirim ke Formosa (Taiwan) dan akhirnya ke Manchuria (Darsoprajitno, 06-01-2004).

Fakta lain berkenaan dengan pentingnya posisi Bandung namun tidak banyak diketahui dan dipublikasikan, adalah usulan menjadikan Bandung sebagai Ibukota Kerajaan Belanda di pengasingan. Setelah beberapa waktu memimpin pemerintahan Belanda di pengasingan di London, pada bulan Mei 1940 Ratu Wilhelmina disarankan oleh anggota kabinet Belanda, De Geer, untuk mempertimbangkan pemindahan pemerintah kerajaan Belanda dari London ke daerah Belanda sendiri, tepatnya ke Hindia Belanda. Adapun tempat yang direkomendasikan untuk dijadikan sebagai ibukota adalah Kota Bandung dengan alasan Iklimnya mendukung sebagai pusat pemerintahan. Namun sayang, Ratu Wilhelmina keberatan atas usul tersebut dengan alasan : (1) masalah kesehatan, karena secaralangsung pindah ke daerah tropis untuk waktu yang tidak menentu terlalu riskan; (2) secara strategis dan psikologis keberadaannya di London yang letaknya tidak jauh dari Belanda menjadikan Ratu tetap dapat memonitor perkembangan negeri dan rakyatnya; (3) kedudukan London sebagai basis utama kekuatan sekutu sangat menguntungkan bagi Belanda karena Belanda merupakan bagian dari Sekutu (Koesman, 2002).

Pertahanan Hindia Belanda

Mempersiapkan Bandung sebagai pengganti Batavia sebagai ibukota Hindia Belanda sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman Gubernur Jenderal H.W. Daendels, yaitu dengan menjadikan Bandung sebagai salah satu daerah yang dilalui oleh rencana pemangunan Jalan Raya Pos walaupun posisi Bandung berada di bagian tengah pulau Jawa, bukan daerah pesisir utara pulau Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan, sebagai seorang yang berpengalaman dalam berperang, Daendels memandang posisi Bandung yang kala itu masih berupa hutan belantara sebagai posisi yang ideal sebagai pusat pemerintahan pengganti Batavia di masa depan.

Sejarah membuktikan, pasukan Hindia Belanda yang dikonsentrasikan di kota Pantai, yaitu di Batavia, Semarang, dan Surabaya dengan mudah dapat dipatahkan musuh. Hal ini terlihat ketika armada pasukan Inggris yang dipimpin Lord Minto menyerbu Batavia (4 Agustus 1811) berhasil mengalahkan kekuatan militer Belanda dengan tanpa perlawanan berarti. Pengalaman tersebut melahirkan rencana besar dalam pembangunan militer Hindia Belanda, yaitu memindahkan pangkalan militer Belanda dari daerah pantai ke daerah pedalaman. Adapun daerah yang dipilih sebagai pangkalan militer jaraknya harus dekat dengan Ibukota namun sulit dijangkau musuh (Kunto, 1984:162).

Setelah melalui berbagai pertimbangan maka pada tahun 1896 dipilih Cimahi sebagai Pusat Militer Belanda. Pemilihan tersebut terutama didasarkan pada letak geografis Cimahi yang strategis, yaitu tidak terlalu jauh dari Batavia serta dikelilingi pegunungan tinggi dan terjal. Selain itu, Cimahi berdekatan dengan persimpangan dua jalan penghubung Bandung – Batavia, yaitu Jalan Kereta Api dan dan Jalan Raya Pos. Cimahi berada dekat dengan pertemuan Jalan Kereta Api Bandung – Batavia melalui Cianjur dan jalur Kereta Api Bandung – Batavia melalui Purwakarta. Selain itu, Cimahi juga dekat dengan simpang Jalan Raya Bandung – Batavia melalui Cianjur atau jalan raya pos serta Jalan Raya Bandung – Batavia melalui Purwakarta.

Peresmian Cimahi sebagai Garnisun Militer dilakukan pada bulan September 1896 dengan komandan pertamanya Mayor Infanteri CA van Loenen dan ajudannya Luitenan JA Kohler. Keberadaan pusat pertahanan tersebut didukung oleh keberadaan pabrik senjata yang dibangun di kawasan Bandung (Kunto, 1984:163-164). Untuk memperkuat pertahanan, Cimahi juga dihubungkan jalur Jalan Kereta Api dengan pusat pertahanan Belanda di Samudera Hindia, yaitu Cilacap.

Kebijaksanaan pertahanan Hindia Belanda dapat diketemukan pada Pokok-pokok Dasar Pertahanan yang berlaku mulai tahun 1927. Pada prinsipnya tentara Belanda di dalam kebijaksanaan tersebut lebih ditekankan pada tugas "rust en orde" yaitu penegakan keamanan dan ketertiban di dalam negeri sedangkan pertahanan menghadapi serangan dari luar kurang mendapat perhatian. Belanda nampaknya akan berlindung pada kekuatan Sekutu yaitu Inggris dan Amerika, sehingga keberadaan lapangan terbang Andir lebih difokuskan untuk kepentingan penerbangan sipil. Baru pada tahun 1939 dengan meningkatkan perkembangan politik di Eropa dan Asia, Belanda menyadari perlunya peninjauan kembali kebijakan pertahanan yang telah ada. Salah satunya adalah kekuatan udara perlu dijadikan kekuatan pokok disamping kekuatan laut, sehingga perlu dikembangkan system pertahanan udara. Kebijakan ini menjadikan keberadaan lapangan udara Andir semakin penting karena selain sebagai lapangan terbang sipil juga berfungsi sebagai pangkalan militer. Kondisi ini semakin memposisikan lapangan terbang Andir sebagai salah satu lapangan terbang terpenting di Hindia Belanda (Koesman, 2002). Melalui lapangan terbang ini, evakuasi pejabat militer dan sipil Belanda ke Australia dilakukan ketika posisi Belanda semakin terdesak oleh Jepang serta pulau Jawa tidak mungkin untuk tetap dipertahankan.

Menyadari keberadaan lapangan udara Andir akan menjadi target penyerangan musuh jika terjadi peperangan, Belanda juga mempersiapkan landas pacu cadangan yang berada di luar lapangan udara Andir namun posisinya tidak jauh dari pusat kota Bandung. Landas pacu tersebut harus tersamar agar musuh tidak mudah diketahui musuh. Adapun ruas jalan yang dimaksud adalah jalan Buahbatu, yaitu ruas jalan penghubung kota Bandung dengan kawasan pinggirannya. Jalan tersebut dibangun memanjang membelah persawahan kota Bandung.

Sejarah mencatat, ketika Belanda semakin terdesak dan menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Letnan Jenderal HW Van Mook didampingi perwira intelejen Mayor S.H. Spoor melarikan diri ke Australia dengan pesawat Dakota yang tinggal landas di Jalan Buah Batu karena takut akan pembalasan Jepang (Darsoprajitno, 06-01-2004). Penggunaan jalan buah batu sebagai landas pacu ketika Van Mook keluar dari Bandung, adalah karena landas pacu lapangan udara Andir tidak dapat didarati pesawat akibat gempuran pasukan Jepang. Pelarian Van Mook dan pejabat Belanda lainnya ke Australia dilakukan karena secara realistis sudah tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan pulau Jawa dari serbuan bala tentara Jepang (The Glasgow Herald, 11-03-1942).

Untuk memperkuat pintu masuk Bandung dari arah timur, Belanda membangun basis pertahanan di wilayah Sumedang, sekitar 45 km timur Bandung. Hal ini terlihat dari tinggalan-tinggalan sejarah yang masih bisa dijumpai hingga saat ini, yaitu berupa bangunan-bangunan pertahanan di Gunung Palasari, Gunung Kunci, dan Gunung Gadung/Pasir Laja yang dibangun antara tahun 1914-1918 (Abrianto, 2007).

Bangunan pertahanan di Gunung Palasari berada pada ketinggian 675 mdpl, dibuat di atas permukaan tanah dengan konstruksi beton bertulang dengan ketebalan rata-rata 0,80 m. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan atau gudang serta sebagai asrama atau barak prajurit; Bangunan pertahanan Gunung Kunci atau Panjoenan, berdiri di puncak sebuah bukit pada ketinggian 500 mdpl. Sebagian bangunan ini berada di dalam tanah dan sebagian lagi di permukaan tanah serta dibuat dengan konstruksi beton bertulang dengan ketebalan rata-rata 0,80 m – 1,60 m. Bangunan pertahanan ini berfungsi sebagai bangunan pertahanan sekaligus sebagai asrama atau barak prajurit serta gudang. Orientasi pertahanan bangunan ini, adalah selatan, barat, dan timur; Bangunan pertahanan di Gunung Gadung atau Pasirlaja, merupakan bangunan pertahanan yang berada pada ketinggian 718 mdpl dan dibangun di bawah permukaan tanah dengan konstruksi beton cor bertulang dan mempunyai ketebalan dinding rata-rata 0,5 – 1,50 m. Bangunan ini berfungsi sebagai pertahanan, gudang/penyimpanan dan barak atau asrama prajurit (Abrianto, 2007).

Letak ketiga bangunan pertahanan tersebut tidak jauh dari Jalan Raya Pos dan orientasi pertahanannya adalah jalan raya tersebut serta fungsinya sebagai markas pasukan dan gudang penyimpanan. Kondisi ini menunjukkan ketiga bangunan pertahanan tersebut merupakan pusat pertahanan pasukan Belanda guna menghambat laju pergerakan militer musuh yang berusaha masuk kota Bandung dari arah timur.

Posisi Strategis Bandung

Pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung yang direkomendasikan oleh Tillema dan mendapat apresiasi dari pemerintah Belanda menunjukkan Bandung mempunyai kedudukan yang strategis dibanding kota lainnya di pulau Jawa. Hal ini didasarkan pada Iklim di Bandung yang lebih sejuk dibanding Batavia, serta lingkungannya yang lebih sehat dibanding kota-kota pantai. Udara panas di kota-kota pantai dapat mengakibatkan orang cepat lelah dan semangat kerja menurun. Kondisi tersebut berbeda jika ibukota pemerintahan berada di daerah sejuk dimana orang tidak cepat lelah dan semangat kerja tetap bisa terjaga. Selain itu, semangat untuk memindahkan Ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke kota Bandung semakin meningkat setelah Inggris memindahkan Ibukota daerah koloninya di India dari Calcuta ke New Delhi yang berada di daerah pedalaman.

Alasan lain yang menjadi dasar pemindahan ibukota Hindia Belanda ke kota Bandung adalah letak geografis Kota Bandung. Secara geografis, Kota Bandung tidak jauh dari Batavia dan secara geomorfologis berada pada zona depresi antar montana yang merupakan pemisah antara zona pegunungan utara pulau Jawa dengan zona pegunungan selatan pulau Jawa, sehingga topografinya berupa cekungan dengan dataran yang luas di tengah dan dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan di sekelilingnya (Bemmelen, 1949).

Keberadaan pegunungan, perbukitan tinggi dan terjal serta lembah-lembah dalam yang mengelilingi Bandung merupakan keuntungan tersendiri karena bukit, gunung dan lembah merupakan benteng alam yang kokoh melindungi dari serbuan musuh. Selain itu, akses masuk kota Bandung terbatas, yaitu hanya melalui Jalan Raya Anyer – Panarukan (Jalan Raya Pos) yang membentang dari Barat ke Timur membelah dataran Bandung. Terbatasnya akses masuk menjadikan pengelolaan pertahanan kota dapat dikelola dengan lebih baik, karena pemusatan pasukan pertahanan hanya difokuskan di kedua pintu masuk, yaitu di sebelah Barat dan Timur kota Bandung. Di sebelah barat, Belanda membangun pusat militer di Cimahi dan di sebelah timur dibangun benteng-benteng pertahanan di Sumedang.

Keadaan dunia yang masa itu sedang diliputi oleh peperangan, menjadikan posisi strategis secara militer menjadi pertimbangan dalam menentukan ibukota pemerintahan di banyak negara. Kota yang dipilih sebagai pusat pemerintahan, adalah kota yang secara militer berada pada posisi strategis, yaitu berada di daerah yang secara alami terlindung dan mudah dipertahankan, namun sulit dijangkau musuh.

Penutup

Ketika Daendels membangun Jalan Raya Pos, Bandung hanyalah sebuah kampung kecil di tengah belantara tropik pulau Jawa. Daendels berharap di Bandung berdiri sebuah kota dan harapan itu terwujud. Dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, Bandung telah menyandang dua fungsi, yaitu ibukota Kabupaten Bandung dan ibukota Karesidenan Priangan menggantikan Cianjur. Memasuki abad ke duapuluh, status Bandung kembali meningkat menjadi sebuah kotapraja (Gemeente) dan terus meningkat menjadi kota dengan status Stadsgemeente seiring dengan semakin maraknya pembangunan di kota ini.

Kemajuan pembangunan infrastruktur di kota Bandung dan letaknya yang strategis, serta kondisi iklimnya yang sejuk telah menjadikan kota ini satu-satunya yang direkomendasikan sebagai ibukota Hindia Belanda menggantikan Batavia yang pada saat itu kondisinya dianggap sudah tidak layak sebagai ibukota. Usulan tersebut disambut pemerintah dengan melakukan percepatan pembangunan infrastruktur yang diperlukan guna mendukung sebuah ibukota negara, bahkan kekuatan militer Belanda juga ikut pindah ke sekitar Bandung dan dipusatkan di Cimahi.

Setelah menunggu lebih dari duapuluh tahun sejak kota Bandung direkomendasikan menjadi Ibukota Hindia Belanda menggantikan Batavia, kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda akhirnya pindah ke Bandung pada awal Maret 1942, ketika posisi Belanda di Batavia sudah terdesak oleh Jepang. Namun sayang, kedudukan Bandung sebagai ibukota Hindia Belanda hanya berlangsung beberapa hari, karena pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada Jepang dilakukan di Bandung, tepatnya di gedung Balaikota Bandung (gedung Papak) pada tanggal 10 Maret 1942. Hal ini menunjukkan, secara de facto walau hanya beberapa hari Bandung telah menjadi Ibukota Hindia Belanda menggantikan Batavia.

Daftar Pustaka

Abrianto, O. 2007. Laporan Hasil penelitian Arkeologi Bangunan Pertahanan Masa Kolonial di Kabupaten Sumedang. Bandung : Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan).

Affandie, R.M.A., 1969. Bandung Baheula 1-2. Bandung : Guna Utama

Bemmelen, R.W.V. 1949. The geology of Indonesia, The Hague : Martinus Nijhoff.

Daldjoeni, N. 1988. Geografi Kota dan Desa. Bandung : Alumni.

Daldjoeni, N. 1988. Geografi Kesejarahan 1-2. Bandung : Alumni.

Daljoeni, N. 1991. Dasar-dasar Geografi Politik. Bandung : Alumni.

Darsoprajitno, S. 2004. Mengenang KAA, Merestorasi Bangunan Lama”. Pikiran Rakyat (06-01-2004).

Hardjasaputra, A.S. 2000. Bandung dalam : Lubis, N.H., dkk. (2000) Sejarah Kota-kota lama di Jawa Barat. Bandung : Alqaprint.

Koesman, H. Aboeng. 2002, “IPTN : Harapan dan Tantangan” dalam http://www.indonesian-aerospace.com/book/d02.htm [diakses tanggal : 28-03-2010].

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandung Tempo Doeloe. Bandung : Granesia

Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung : Granesia

The Glasgow Herald. Mar 11, 1942Dutch Still Fighting in Java, Dr. Van Mook on Lesson for Australia” dalam http://news.google.com/newspapers [diakses tanggal : 06-04-2010].

Rosidi, A. ed. 2000. Ensiklopedi Sunda . Jakarta : Pustaka Jaya

Sumaatmadja, N. 1988. Studi Geografi, Suatu pendekatan dan Analisa Keruangan.. Bandung : Alumni.